… karena kerja adalah ibadah
Saya pulang membawa berkarung-karung berkah tak kasat mata dalam bentuk satu buku tua terbitan tahun 1947 berjudul Great Beyond yang ditulis Maurice Maeterlinck. Berkisah tentang tuhan yang mengambang antara ada dan tiada, mengenai hidup yang kembar siam dengan mati, perihal hukum fisika dimana aksi sama dengan reaksi dan mengejewantah dalam tarik-ulur antara teis dan ateis.
Namun yang paling menarik adalah bagaimana manusia merasa tau pasti tentang sifat dan psikologi sesuatu yang tidak kasat mata dan diyakini memiliki kekuatan lebih dari dirinya dan bahkan alam semesta. Sebagaimana banyak diantara kita (termasuk saya salah satunya) merasa lebih berhak memutuskan bagaimana seseorang harus menjalankan hidup.
The wisest man is the one who sees farthest in his ignorance.
Konon, manusia adalah mahluk sosial yang hidup dalam kelompok-kelompok kecil bernama keluarga, lingkaran persahabatan, wilayah kos-kosan, atau RT. Namun seringkali hal itu menjadi sangat menyebalkan ketika empati dan perasaan kasihan bermain disana, merasa mampu menjadi Yesus jadi-jadian dan berusaha menanggung beban salib orang lain, memperingan hidup mereka dengan mencampakkan salibnya sendiri ke atas tanah.
Padahal hidup adalah perjuangan.
Dan bagaimana dia akan berjuang jika semua hal dimudahkan? Bagaimana manusia akan belajar jika dia tidak pernah salah? Bagaimana dia akan merasa bahagia jika tidak pernah sedih?
Ah… Year-end Blues dan segala tetek bengek resolusi bullshit. Saya cuma hilang ide mau ngapain 2009 nanti.
Counting down to Doomsday, Anyone? Or is it simply cherish the things we had and will be?
Anyhow, selamat ganti kalender. Semoga semua mahluk berbahagia.